Showing posts with label Organisasi dan Management Pemerintahan Daerah. Show all posts
Showing posts with label Organisasi dan Management Pemerintahan Daerah. Show all posts

Saturday, March 31, 2012

Asas-Asas Manajemen; Implementasi Teori Manajemen dalam LAPAN

Asas-Asas Manajemen; Implementasi Teori Manajemen dalam LAPAN

A. Latar belakang

Manajemen adalah salah satu bagian terpenting dalam suatu perusahaan. Tugasnya sangat krusial dalam suatu organisasi yakni, menentukan dan mengawasi kinerja suatu organisasi agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh manajemen itu sendiri. Dari sini dapat diketahui bahwa manajemen mutlak diperlukan dalam suatu organisasi karena merupakan pusat kinerja dari organisasi itu sendiri.

Berbagai tugas manajemen itu sendiri di jelaskan lebih lanjut dalam fungsi manajemen. Fungsi manajemen ini dapat berbeda pada tiap perusahaan tergantung dari penggunaannya. Namun yang utama terdiri dari Planning, Organizing, Leading dan Controlling yang sering disingkat menjadi POLC. Walaupun berbeda-beda, tujuan manajemen dalam suatu organisasi selalu sama yaitu mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Lebih lanjut lagi, yang melatarbelakangi fungsi manajemen ini adalah teori yang dikembangkan oleh Henry Fayol, yakni teori organisasi klasik. Teori ini masih memiliki kekurangan yakni berfokus kepada masalah teknis. Teori manajemen lain yang berkembang dan berusaha melengkapi teori ini adalah aliran tingkah laku manusia yang melihat keberhasilan kinerja manajemen dapat dicapai dengan memperhatikan dan mengarahkan tingkah laku anggota organisasi.

Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai implementasi dari fungsi manajemen beserta teori manajemen tersebut dalam salah satu instansi pemerintah yakni Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN sendiri merupakan adalah Lembaga Pemerintah Non Kementrian yang bertugas dalam pengembangan tekhnologi dan sains terutama di bidang satelit dan sensor penginderaan jauh.

B. Kerangka teori

a. Pengertian Manajemen

Sebelum memulai lebih jauh mengenai manajemen, harus diketahui terlebih dahulu mengenai pengertian dari manajemen. Terdapat berbagai pendapat mengenai manajemen. Mary Parker Follet berpendapat bahwa manjemen adalah seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Sedangkan Stephen Robbin berpendapat hampir sama yakni koordinasi aktivitas kerja sehingga dapat diselesaikan secara efektif dan efisien melalui orang lain. Pendapat lain mengatakan bahwa manajemen adalah POLC dari sumber-sumber organisasi yang berupa manusia serta materi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Jones dan George, 2007:p.5).

b. POLC

POLC yang dimaksud disini adalah proses manajemen yang terdiri dari planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), leading (pemimpinan), dan controlling (pengendalian). Planning merupakan proses awal pengidentifikasian dan menyeleksi tujuan yang sesuai serta program kegiatan yang terbaik dalam mencapai tujuan tersebut. Perencanaan yang baik juga mempertimbangkan jangka waktu yang tepat di tiap rencana program kegiatan. Selanjutnya adalah organizing yang merupakan proses membangun hubungan tugas dan wewenang yang membuat orang untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi. Yang dikoordinasikan disini adalah antara sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada. Perlu diingat bahwa sasaran yang berbeda memerlukan struktur yang berbeda. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar dalam pengorganisasian dalam mengatur SDA dan SDM. Hal penting lainnya dalam pengorganisasisan adalah staffing. Staffing adalah pencarian anggota dalam organisasi. Di dalamnya juga termasuk penempatan dan pelatihan para staff yang telah dipilih tersebut. Lalu proses manajemen selanjutnya adalah leading yaitu proses motivasi serta koordinasi baik individu maupun kelompok untuk dapat bekerjasama mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang dimaksud lebih kepada bagaimana seorang pemimpin mengarahkan untuk maju dan mempengaruhi aktivitas bawahannya dengan menciptakan suasana menyenangkan untuk bekerja. Dan proses manajemen terkahir adalah controlling yaitu penetapan pengukuran yang akurat dan sistem monitoring untuk mengevaluasi seberapa baik organisasi telah mencapai tujuannya. Dalam fungsi pengendalian ini terdapat berbagai elemen yang perlu diperhatikan yaitu penetapan standar kerja, pengukuran prestasi yang telah dicapai, pembandingan prestasi yang telah ada serta koreksi dari kesalahan yang terlihat. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah TQM atau Total Quality Management yang memusatkan manajemen pada perbaikan yang terus menerus.

c. Peran Organisasi

Elemen terpenting lainnya yang membentuk manajemen adalah orang-orang yang menjalankan manajemen itu sendiri, yakni organisasi. Organisasi adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran. (Stoner,Freeman dan Gilbert Jr, 1995:p.6). Dalam buku Management 2nd Edition, Stoner menerangkan berbagai peranan organisasi. Antara lain adalah penggunaan organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan, untuk melestarikan pengetahuan serta sumber karir.

d. Peran Manajer

Selain organisasi hal penting lainnya yang menjadi poin utama dalam manajemen dan organisasi adalah satu orang di balik layar yang mengatur hubungan semuanya yaitu manajer. Peran utama manajer adalah sebagai penggerak roda perusahaan utama menuju ke arah tujuan perusahaan. Penjelasan lebih lanjut mengenai manajer dijelaskan oleh Stoner dalam bukunya Management 2nd edition, yakni:

  1. Manajer bekerja melalui orang lain baik bawahan maupun klien.
  2. Manajer bertindak sebagai saluran komunikasi di dalam organisasi karena menetapkan tujuan jangka panjang perusahaan dan menyediakan informasi yang tepat.
  3. Manajer bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas kerjaannya dan kerjaan bawahnya, karena itu manajer harus mengevaluasi kerjaan bawahannya untuk menjaga nama baik dirinya sendiri. Hal ini juga menunjukan manajer harus bekerja lebih baik dibanding yang lainnya.
  4. Manajer menentukan tujuan yang saling bertentangan dan menentukan prioritas. Hal ini terjadi akibat tujuan dan sumber daya yang ada saling bertentangan, dari sini manajer memutuskan siapa dan apa yang paling baik digunakan untuk menyelesaikan masalah yang muncul dalam suatu organisasi.
  5. Manajer harus berpikir secara analitis dan konseptual dengan cara membagi permasalahan sebagai komponen-komponen lalu dianalisa sehingga akhirnya ditemukan penyelesaian yang tepat.
  6. Manajer adalah mediator disaat terjadi perselisihan diantara orang-orang yang berada dalam organisasi maupun diluar organisasi akibat dari tujuan dan jenis orang yang bermacam-macam.
  7. Manajer adalah politikus dikaitkan dengan penciptaan hubungan, pendekatan serta kompromi dalam mencapai tujuan organisasi.
  8. Manajer adalah diplomat mewakili organisasinya saat berbicara dengan organisasi lain.
  9. Manajer merupakan simbol yakni lambang keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi dilihat dari tanggung jawab yang diembannya.
  10. Manajer mengambil keputusan sulit karena masalah yang akan selalu muncul.

e. Efektif dan efisien

Hal lain yang menjadi prioritas bagi organisasi adalah mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Tapi bukan sembarang mencapai tujuan organisasi biasa. Tujuan organisasi harus bisa dicapai secara efektif dan efisien. Efektif yang dimaksud adalah pemilihan cara yang tepat dalam mencapai tujuan. Ukuran yang menunjukan kesesuaian tujuan organisasi yang ingin dicapai dengan tingkat pencapaian tujuan organisasi yang nyata dan faktual. Pendapat lainya mengatakan efektif yang dimaksud adalah kemampuan untuk menentukan tujuan yang memadai atau melakukan hal yang tepat (Stoner,Freeman dan Gilbert Jr, 1995:p.9) sehingga dapat dikatakan efektivitas sudah harus dilakukan dari awal saat memulai organisasi dan terus dilakukan selama proses mencapai tujuan organisasi. Sedangkan efisiensi adalah permasalahan mengenai input dan output yakni perbandingan input yang seminimal mungkin untuk menghasilkan output yang maksimal (hemat) sehingga manajer dikatakan berhasil apabila dalam pencapaian tujuan organisasi dapat menekan biaya sumber daya. Dalam buku yang lain, efisiensi adalah permasalahan ketepatan (Stoner,Freeman dan Gilbert Jr, 1995:p.9). Sama halnya dengan pendapat sebelumnya, ketepatan yang dimaksud adalah pengukuran input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output yang diperlukan.

Keefektifan dan keefisienan ini juga dapat digunakan sebagai pengukuran prestasi. Terdapat dua jenis pengukuran prestasi, yakni prestasi manajerial dan prestasi organisasi. Sesuai dengan namanya, prestasi manajerial mengukur seberapa efektif dan efisien kerja mereka yang akan mempengaruhi prestasi organisasi, yakni seberapa efektif dan efisien kerja suatu organisasi.

f. Dasar Manajemen

Dasar manajemen yang baik akan menghasilkan pencapaian tujuan secara baik pula. Karena itulah dasar menjadi penting sebelum memulasi suatu organisasi. Menurut studi yang dilakukan oleh Thomas J. Peters dan Robert H. Waterman dalam In Search of Excellence: Lesson from America’s Best Run Companies (1982), terdapat deLAPAN atribut perusahaan yang unggul:

  1. Keunggulan dalam bertindak
  2. Tetap dekat dengan pelanggan
  3. Otonomi dan kewiraswastaan
  4. Produktivitas melalui manusia
  5. Kehadiran sosok pimpinan
  6. Pemahaman bisnis yang mendalam
  7. Bentuk yang sederhana, struktur dan ramping
  8. Sikap yang tetap longgar.

g. Tingkatan Manajer

Terdapat berbagai tipe manajer dilihat dari tingkatan dan lingkup kerjanya. Menurut tingkatannya terdapat manajer lini pertama, manajer menengah/madya dan manajer puncak. Manajer lini pertama bertanggung jawab atas pengawasan sehari-hari dari karyawan non manajerial (pekerja operasional) bukan kerja dari manajer lain karena mereka merupakan tingkat pertama atau terendah dari manajer dalam hirarki organisasi. Sering juga disebut sebagai mandor, pengawas produksi, pengawas tehnik, kepala bagian tata usaha, foreman atau supervisor. Diatas manajer lini pertama terdapat manajer menegah yang bertanggung jawab menemukan cara terbaik dalam menggunakan sumber daya alam untuk mencapai tujuan perusahaan. Manajer menegah mengarahkan kegiatan manajer lini pertama. Tanggung jawabnya antara lain mengimplementasikan kebijakan organisasi dan menyeimbangkan permintaan dari manajer dengan kapasitas karyawan. Sebutan lain dari manajer menegah adalah manajer pabrik. Dan selanjutnya adalah manajer puncak yang bertanggung jawab atas keseluruhan kinerja organisasi, mulai dari penetapan tujuan organisasi, interaksi antar kementrian serta pengawasan kinerja manajer menengah. Sebutan lain dari manajer puncak adalah chief executive, officer/direktur utama, presiden direktur dan senior vice president, eksekutif dan wakil presiden. Mereka bertanggung jawab langsung terhadap atasan utama yakni CEO (Chief Executive Officer). Sedangkan berdasarkan ruang lingkup kerjanya, manajer dibagi menjadi dua, yakni manajer fungsional dan manajer umum. Manajer fungsional bertanggung jawab hanya pada satu kegiatan organisasi seperti produksi, pemasaran, penjualan atau keuangan. Secara tidak langsung manajer fungsional menyatukan kesamaan tugas. Sedangkan manajer umum lebih rumit dibandingkan manajer fungsional. Hal ini dilihat bawahan manajer umum yakni unit yang kompleks seperti perusahaan, anak perusahaan atau divisi operasi independen semakin besar suatu perusahaan dan cabangnya tentunya semakin banyak manajer umum di dalamnya.

h. Kemampuan Manajer

Tidak semua orang bisa menjadi manajer, diperlukan berbagai macam kemampuan untuk dapat menyesuaikan keadaan SDM dan SDA untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Kemampuan itu termasuk di dalamnya pendidikan dan pengalaman. Lebih lanjut lagi pendidikan dan pengalaman ini masuk ke dalam tiga prinsip yakni kemampuan konseptual, manusiawi dan tekhnikal. Kemampuan konseptual mencakup kemampuan mental untuk mengkoordinasi dan mengintegrasikan berbagai macam kepentingan dan kegiatan organisasi. Hal ini ditunjukan dengan kemampuan analisa dan diagnosa situasi sehingga dapat membedakan antara sebab dan akibat. Kemampuan ini terutama dibutuhkan untuk top manager karena tugasnya sebagai perencana dan pengorganisasian. Selanjutnya adalah kemampuan manusiawi yakni kemampuan untuk dapat bekerja dengan orang lain termasuk didalamnya kemampuan untuk mengerti, motivasi, merubah, memimpin serta mengatur perilaku individu dan kelompok menjadi kelompok yang kohesif. Dan yang terakhir kemampuan teknis yakni kemampuan spesifik dalam peran organisasi termasuk penggunaan alat, prosedur dan tehnik di bidang khusus yang diperlukan organisasi. Ketiga kemampuan ini sangat penting namun terdapat perbedaan kepentingan bagi tingkatan manajer. Misalnya manajer lini pertama diharapkan kemampuan tekhnisnya lebih tinggi dibanding lainnya, manajer menengah diharapkan kemampuan manusiawinya lebih tinggi serta manajemen puncak diharapkan mempunyai kemampuan konseptual lebih tinggi sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

i. Peran Manajerial

Peran manajerial sendiri adalah kumpulan tugas spesifik yang dilakukan manajer karena posisi yang dipegangnya di dalam organisasi. Mintzberg menerangkan berbagai peranan manajerial. Terdapat tiga garis besar yakni peranan antarpribadi (interpersonal role) yang terdiri dari tokoh (figurehead), pemimpin (leader) dan penghubung (liaison), lalu peranan informasional (informational role) yang terdiri dari pemantau (monitor), penyebar (disseminator) dan juru bicara (spokesperson) serta peranan pengambil keputusan (decisional role) yang terdiri dari wiraswasta (enterpreuner), pemadam keributan (disturbance handler), pengalokasi sumber daya (resource allocator) dan perunding (negotiator). Berikutnya akan dijelaskan satu persatu. Peranan antar pribadi merupakan tugas yang dilakukan setiap saat karena manajer akan bertemu dengan orang lain di tiap kerjanya sehingga bersifat rutin namun tetap tidak boleh diabaikan. Sebagai tokoh, manajer bertindak melakukan tugas-tugas seremonial, membuat outline masa depan perusahaan, penentuan rapat, pembukaan cabang dan sebaginya. Sebagai pemimpin, manajer menyemangati dan mengawasi kinerja bawahannya. Terakhir sebagai penghubung, manajer berhubungan dengan klien di luar organisasi termasuk dengan kementrian yang berbeda. Selanjutnya adalah peranan informasional. Informasi berperan penting bagi manajer sebagai pijakan dalam pengambilan keputusan. Sebagai pemantau, manajer akan terus mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi termasuk perubahan lingkungan eksternal dan internal yang selanjutnya sebagai penyebar, manajer memilah informasi untuk disebarkan ke pihak-pihak yang membutuhkan informasi. Informasi yang disebarkan antara lain tujuan organisasi serta perubahan lingkungan eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi organisasi Dan terakhir sebagai jurubicara, manajer memberikan informasi kepada publik serta klien tertentu untuk memberitahukan kinerja organisasi. Dapat dilakukan dengan pembuatan iklan, kampanye, press release dan sebagainya. Dilihat dari sisi peranan pengambil keputusan, manajer menggunakan informasi yang sudah dimilikinya tadi sebagi dasar dalam mengambil keputusan. Dalam peran wiraswasta, manajer menyempurnakan unitnya yakni sumber daya yang dimiliki dengan melakukan perubahan sehingga menghasilkan jasa dan barang yang inovatif . Dalam peran pemadam keributan, manajer bertindak cepat mengambil tindakan yang tepat terhadap keadaan yang ada di luar kontrolnya baik di dalam maupun di luar lingkungan. Sebagai pengalokasi sumber daya, manajer memperhitungkan sumber daya yang dibutuhkan agar penggunaanya efisien dalam mencapai tujuan perusahaan termasuk anggaran dan gaji. Sebagai perunding, manajer penghubungan antar dua pihak yang akan bekerjasama demi mencapai tujuan organisasi masing-masing seperti pihak supplier, distributor dan persatuan pekerja untuk mencapau kesepakatan mengenai sumber daya yang dibutuhkan organisasi.

j. Teori manajemen

  • § Teori organisasi klasik

Teori ini diperkenalkan oleh Henry Fayol (1841-1925) pendiri aliran manajemen klasik. Disini Fayol membagi perusahaan ke dalam enam kegiatan yakni

1. Teknis (technical) – memproduksi dan membuat produk

2. Perdagangan (commercial) – membeli bahan baku dan menjual produk

3. Keuangan (financial) – mencari dengan menggunakan modal

4. Keamanan (security) – melindungi para pekerja dan harta

5. Akuntansi (accounting) – mencatat dan mengecek biaya serta statistik

6. Manajerial (management)

Selanjutnya, Fayol juga memiliki konsepsi tersendiri mengenai fungsi manajemen. Fayol mendefinisikan manajemen menjadi lima bagian, yakni merencanakan, memerintah, mengkoordinasi dan mengendalikan. Fungsi manajemen ini selanjutnya berkembang sesuai dengan apa yang ada saat ini dan disesuaikan penggunaannya tergantung dari organisasi tersebut.

Gambar 1. Fungsi Manajemen Henry Fayol

Selain itu terdapat 14 prinsip manajemen Fayol

  1. Devision of Labor (pembagian kerja). Diterapkan pada lini perakitan, menjelaskan bahwa pekerjaan akan semakin efisien apabila seseorang bekerja sesuai spesialisasinya.
  2. Authority (wewenang). Manajer mengeluarkan perintah untuk dipatuhi.
  3. Dicipline (disiplin). Setiap anggota organisasi mematuhi aturan organisasi.
  4. Unity of Command (kesatuan perintah). Setiap bawahan hanya menerima instruksi dari seorang atasan saja untuk menghilangkan kebingungan dan saling lempar tanggung jawab.
  5. Unity of Direction (kesatuan arah). Tiap bagian hanya memiliki satu kepala dan tiap perintah harus sesuai dengan perencanaan agar menjadi satu arah.
  6. Subordination of Individual Interest to Generale Interest (mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi). Kepentingan seseorang tidak boleh di atas kepentingan bersama atau organisasi.
  7. Renumeration (pemberian upah). Gaji bagi pegawai merupakan harga servis atau layanan yang diberikan, kompensasi yang dibagikan secara adil.
  8. Centralization (pemusatan). Dengan mengatur pembagian tugas dan wewenang antara atasan dan bawahan.
  9. The Hierarchy (jenjang jabatan). Tingkatan tiap anggota dalam organisasi dari puncak sampai bawah.
  10. Order (tata tertib). SDM dan SDA harus berada di tempat dan waktu yang tepat.
  11. Equity (kesamaan). Persamaan perlakuan kepada semua anggota organisasi.
  12. Stability of Staff (kestabilan staf). Perputaran staf yang teratur, tidak terlalu sering atau malah terlalu jarang.
  13. Initiative (Inisiatif). Bawahan diberi kekuasaan dan kebebasan di dalam mengeluarkan pendapatnya, menjalankan dan menyelesaikan rencananya.
  14. Esprit the Corps (semangat korps).

Membuat semua anggota organisasi bersatu dengan membagi rasa semangat .

  • § Aliran tingkah laku manusia

Teori ini didukung oleh berkembangnya ilmu sosiologi dan psikologi. Teori ini melihat orang-orang yang bekerja dalam suatu organisasi sebagai suatu kumpulan manusia yang memiliki jiwanya masing-masing, dengan pemahaman seperti ini, manajer diharapkan lebih melihat kepada tingkah laku bawahannya dalam mencapai tujuan organisasi nantinya yakni melalui manajemen karyawan. Lebih jauh lagi aliran ini melihat bagaimana hubungan antar manusia dapat membawa keuntungan dalam pengaturan organisasi. Selain itu, teori ini melihat cara manusia bertingkah laku dalam organisasi sebagai suatu kesatuan. Hugo Munsterberg dalam bukunya Psychology and Industrial Efficiency menyatakan bahwa produktivitas dapat ditingkatkan melalui :

  1. Menemukan orang yang terbaik dibidangnya.
  2. Memberikan kondisi psikologis yang terbaik.
  3. Menggunakan pengaruh psikologi possible effect untuk mendorong karyawan.

Selain itu, terdapat eksperimen lain yang menyatakan karyawan akan bekerja lebih baik apabila mengetahui bahwa manajemen organisasi memperhatikan kesejahteraan mereka. Eksperimen ini selanjutnya dikenal sebagai Hawthorne effect. Selain itu lingkungan social karyawan akan mempengaruhi kinerja karyawan menjadi lebih baik atau buruk. Hal ini selanjutnya berdampak bahwa tuntutan kelompok akan lebih kuat dibanding sambutan manajemen. Teori ini juga berdasar kepada hirarki kebutuhan Maslow yang melihat manusia sebagai mahluk yang keinginannya terus bertambah seiring pencapaiannya.

Gambar 2. Hirarki Kebutuhan Maslow[1]

  • § Perbandingan teori organisasi klasik dan aliran tingkah laku manusia

Kekurangan teori organisasi klasik hampir sama dengan teori klasik lainnya yakni dibatasi oleh pengetahuan dan kondisi yang ada pada masa lampau. Namun, masih banyak bagian dari teori organisasi klasik yang masih bertahan sampai sekarang. Seperti keterampilan manajemen serta pemisahan bidang-bidang utama praktek manajer. Kekurangan lain dari teori organisasi klasik adalah cakupannya yang terlalu luas. Selain itu, anggapan bahwa manajer harus mempertahankan otoritas formalnya, sudah tidak bisa dilakukan pada jaman sekarang dikarenakan makin terdidiknya karyawan. Hal ini dan berbagai hubungan kemanusiaan yang tidak dibahas dalam teori organisasi klasik, dibahas dalam aliran tingkah laku manusia. Dengan menekankan kepada kebutuhan sosial, gerakan hubungan antar manusia memperbaki pendekatan klasik yang berpendapat bahwa produktivitas hanya berkutat pada masalah tehnik. Aliran tingkah laku manusia juga mengembangkan adanya penelitian dinamika kelompok. Namun, tak ada gading yang tak retak. Aliran tingkah laku manusia berpendat bahwa lingkungan sosial adalah satu-satunya pengaruh besar terhadap kinerja organisasi. Kenyataanya di organisasi, terdapat faktor yang berkaitan yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi.

C. Pokok bahasan

a. Profil singkat

Pada tanggal 31 Mei 1962, dibentuk Panitia Astronautika oleh Menteri Pertama RI, Ir. Juanda (selaku Ketua Dewan Penerbangan RI) dan R.J. Salatun (selaku Sekretaris Dewan Penerbangan RI). Tanggal 22 September 1962, terbentuknya Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan ITB. Berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri Kartika berikut telemetrinya. Tanggal 27 November 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 236 Tahun 1963 tentang LAPAN. Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) adalah Lembaga Pemerintah Non Kementrian yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia. Pelaksanaan tugas-tugas yang ada dalam LAPAN dikoordinasikan dengan Menteri yang bertanggung jawab di bidang riset dan tekhnologi.

b. Visi dan Misi

Visi LAPAN adalah menjadi institusi penggerak kemandirian dalam penguasaan sains dan tekhnologi kedirgantaraan dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan bangsa dan pembangunan nasional yang berkelanjutan. Visi ini dijabarkan lebih lanjut menjadi misi di tiap bidang yang ada dalam LAPAN, yakni :

1. Bidang Teknologi Roket, Satelit dan Penerbangan

Memperkuat kemampuan penguasaan teknologi roket,satelit, dan penerbangan serta pemanfaatannya untuk menjadi mitra industri strategis penerbangan dan pembina nasional pengembangan roket dan satelit

2. Bidang Penginderaan Jauh

Mengembangkan kemampuan teknologi sistem sensor penginderaan jauh, sistem stasiun bumi, akuisisi data dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk mendukung inventarisasi dan permantauan sumberdaya alam, ketahanan pangan dan lingkungan serta mitigasi bencana dan menjadi pembina nasional penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi penginderaan jauh

3. Bidang Sains Dirgantara (Antariksa dan Atmosfer)

Mengembangkan kemampuan penguasaan pengetahuan antariksa dan atmosfer dalam upaya meningkatkan pelayanan masyarakat atas informasi cuaca antariksa dankondisi atmosfer, dan dampaknya pada perubahan iklim global dan kehidupan di bumi

4. Bidang Kebijakan

Mengembangkan kajian kebijakan bagi pengembangan dan/atau perumusan kebijakan dan peraturan perundang-undangan nasional untuk perlindungan kepentingan nasional dalam rangka penguasaan, penerapan dan pendayagunaan IPTEK kedirgantaraan (roket, satelit, penerbangan, penginderaan jauh dan sains antariksa) untuk mendukung pembangunan nasional

5. Bidang Kelembagaan dan Manajemen Sumberdaya

Senantiasa memperbaharui diri sesuai dengan tuntutan perkembangan kemajuan IPTEK dirgantara dan aspirasi masyarakat serta pembenahan pelayanan masyarakat melalui penguatan komunikasi publik, kerjasama, perencanaan program/ kegiatan, organisasi, ketatalaksanaan, SDM dan pengelolaan dan pengembangan asset (sarana prasarana) serta pengawasan dalam rangka mencapai tata kelola pemerintahan yang baik

c. Tugas Pokok

Tugas utama LAPAN antara lain adalah :

  • Melaksanakan tugas pemerintah di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  • Melaksanakan tugas Sekretariat Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (DEPANRI), sesuai Keppres No. 99 Tahun 1993 tentang DEPANRI sebagaimana telah diubah dengan Keppres No. 132 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Keppres No.99 Tahun 1993. DEPANRI adalah suatu badan nasional yang mengkoordinasikan program-program kedirgantaraan antar instansi dan mengarahkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan masalah-masalah kedirgantaraan.

d. Fungsi Dalam mengemban tugas pokok di atas LAPAN menyelenggarakan fungsi-fungsi :

  • Pengkajian dan penyusunan kebijaksanaan nasional di bidang penelitian dan Pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya.
  • Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas LAPAN.
  • Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang kedirgantaraan dan pemanfaatannya.
  • Kerjasama dengan instansi terkait di tingkat nasional dan internasional.
  • Penelitian, pengembangan dan pemanfaatan bidang penginderaan jauh, serta pengembangan bank data penginderaan jauh nasional dan pelayanannya.
  • Penelitian, pengembangan dan pemanfaatan sain atmosfer, iklim antariksa dan lingkungan antariksa, pengkajian perkembangan kedirgantaraan, pengembangan informasi kedirgantaraan serta pelayanannya.
  • Penelitian, pengembangan teknologi dirgantara terapan, elektronika dirgantara, wahana dirgantara serta pemanfaatan dan pelayanannya.
  • Pemasyarakatan dan pemasaran dalam bidang kedirgantaraan.
  • Pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas semua unsur di lingkungan LAPAN.
  • Penyelenggaraan, pembinaan pelayanan administrasi umum.

e. Kewenangan

Sebagai salah satu instansi pemerintah, LAPAN memiliki kewenangan sebagai berikut :

  • Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;
  • Perumusan kebijakan dibidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro;
  • Penetapan sistem informasi di bidangnya;
  • Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanganyang berlaku yaitu : Perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Penginderaan/pemotretan jarak jauh dan pemberian rekomendasi perizinan orbit satelit

f. Program

I. Program pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa:

1. Pengembangan Teknologi Roket

2. Pengembangan Teknologi Satelit

3. Pengembangan Teknologi Penerbangan

4. Pengembangan Teknologi Penginderaan Jauh dan Bank Data

5. Pengembangan Pemanfaatan Penginderaan Jauh

6. Pengembangan Sains Atmosfer

7. Pengembangan Sains Antariksa

8. Pengkajian Kebijakan dan Informasi Kedirgantaraan

9. Operasi stasiun bumi penginderaan jauh cuaca, pengamat geomagnet, meteo, dan atmosfer dan Telemetri Tracking Commands (TTC) dan pekayanan pengguna

10. Operasi Akuisisi dan pengolahan data satelit penginderaan jauh sumber daya alam serta pelayanan pengguna

11. Operasi Akuisisi data meteorologi, atmosfer dan Antariksa

II. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya LAPAN yang mendukung kinerja pelaksanaan Program Pengembangan Teknologi Penerbangan dan Antariksa

1. Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi Perencanaan, MONEV, Organisasi, Ketatalaksanaan dan Hukum;

2. Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi Humas dan Kerjasama Kedirgantaraan (kerjasama nasional, internasional, maupun pelayanan umum);

3. Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi Sumberdaya dan Tata Usaha;

4. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur;

5. Pelayanan Pengguna Berbasis Teknologi dirgantara.

RENSTRA LAPAN 2010-2014

Sebagai penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sebagai Lembaga pemerintah telah menyusun Rencana Strategis (RENSTRA) LAPAN Tahun 2010-2014 yang disusun sebagai acuan :

a. Penyusunan RENSTRA Unit Eselon I/II

b. Penyusunan Rencana Kerja LAPAN

c. Penyusunan Rencana/Program kerja LAPAN

d. Koordinasi perencanaan kegiatan

e. Pengendalian kegiatan

RENSTRA sendiri merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi dan misi. Selanjutnya RENSTRA dijabarkan menjadi program tahunan dan di evaluasi pengerjaanya setiap 3 bulan sekali oleh inspektorat.

g. Lokasi

LAPAN mempunyai cabang-cabang yang tersebar di seluruh Indonesia dengan kantor pusat di Jl. Pemuda Persil No. 1 Rawamangun, Jakarta 13220.

Gambar 3. Peta persebaran cabang-cabang LAPAN

h. Produk dan jasa

Produk dan jasa yang ditawarkan oleh LAPAN antara lain adalah :

1. Distribusi / pemesanan data penginderaan jauh

2. Konsultasi mengenai penginderaan jauh

3. Diklat / Training seputar penginderaan jauh

4. Penyebaran informasi seputar penginderaan jauh

i. Jumlah SDM

Gambar 4. Profil pangkat dan golongan LAPAN Oktober 2010

Gambar 5. Profil SDM pendidikan LAPAN Oktober 2010

j. Struktur organisasi

Struktur organisasi dalam LAPAN dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 6. Struktur organisasi dalam LAPAN

Dibawah Kepala LAPAN sebagai ceo (Chief Executive Officer ) terdapat 3 kedeputian teknis (manajer puncak) eselon I dan 1 sekeretariat utama (manajer puncak) eselon I dan 1 inspektrorat eselon II.

Inspektorat merupakan tangan kanan dari kepala LAPAN yang bertugas mengawasi kinerja keseluruhan organisasi LAPAN.

3 Kedeputian teknis (manajer madya) terbagi menjadi :

1. Deputi Bidang Penginderaan Jauh yang memiliki tugas melaksanakan pengembangan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh.

2. Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan memiliki tugas melaksanakan penelitian pengembangan sains antariksa dan pengkajian informasi kedirgantaraan.

3. Deputi Bidang Teknologi Kedirgantaraan melaksanakan pengembangan teknologi roket dan satelit.

Sekretariat Utama dibagi menjadi beberapa (manajer madya)

1. Biro penceranaan dan organisasi

2. Biro hubungan masyarakat dan kerjasama dirgantara

3. Biro umum yang mengatur permasalahan di luar dua biro sebelumnya, seperti manajer madya lainnya didalamnya terdapat manajer lini atas seperti kepegawaian, rumah tangga dan keuangan.

D. Kesimpulan dan saran

Sebagai organisasi, LAPAN memiliki tujuan yang hendak dicapai yang ada dalam visi nya. Selanjutnya, visi ini dijabarkan menjadi misi ditiap bidang yang ada di dalam misi. Untuk mendukung berjalannya misi, dibuat tugas pokok yang harus dilakukan agar misi tercapai. Tugas pokok ini selanjutnya dijabarkan menjadi berbagai program. Untuk mencapai program-program itu dibuat target dalam bentuk RENSTRA yang dijabarkan lagi dalam bentuk triwulan. Kinerja organisasi terus diawasi secara berkala. Dari sini, munculah fungsi LAPAN yang dapat menerangkan produk dan jasa yang dikeluarkannya.

Dalam bagan organisasi yang membagi LAPAN menjadi berbagai bagian, merupakan implemetasi dai pembagian perusahaan fayol. Dari bagan ini pula terlihat bagaimana 14 prinsip manajemen Fayol diimplementasikan beserta fungsi manajemennya. Berhubungan dengan aliran tingkah laku manusia, pembagian kedeputian memperlihatkan penempatan orang yang terbaik dibidangnya karena pembagian bidang kerja yang spesifik.

E. Daftar pustaka

http://www.lapan.go.id/ (diakses tanggal 19 Desember 2010 jam 08.30)

Stoner, J.A.F., Sitrait, A. (1993). Manajemen. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Stoner, J.A.F., Freeman, R.E., Gilbert Jr, D.R., (1995). Manajemen: jilid I. Jakarta: Prenhallindo.


[1] http://eppic.biz/2007/10/12/what-guidance-for-approaching-learning-is-there-from-maslows-hierarchy-of-needs/ (diakses pada tanggal 20 desember 2010 jam 04.04)

This entry was posted in Asas-Asas Manajemen, semester 3, tugas and tagged asas-asas manajemen. Bookmark the permalink.

Organisasi dan Management Pemerintahan Daerah

KELOMPOK

BUKHORI SETIAWAN

DHANI DWI GUSTINO PUTRA

DWI ASTUTI

IRFA KHULUQI

WIKE ARDIYANI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

2011

PENDAHULUAN

Bagaimana sebuah organisasi bisa dikatakan baik?,dan apa saja yang mempengaruhi organisasi itu tidak dapat berjalan sesuai apayang di harapkan dari suatu ungsi organisasi yang ingin di capai. Ada beberapa pandangan sebuah organisasi di katakan baik,sekarang organisasi itu sendiri apa ?. Menurut pandangan saya organisasi adalah sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa indifidu yang mempunyai gagasan dan tujuan untuk tercapainya suatu harapan atau sasaran yang ingin di capai dalam waktu yang sudah di tentukan.

Sekarang bagaimana organisasi itu di katakan baik ?,organisasi yang baik bisa di katakan organisasi yang terorganisir,organisasi yang mempunyai visi dan misi atau tujuan yang jelas,organisasi yang mempunyai perencanaan yang matang,organisasi yang mempunyai kreatifitas dan inofatif dalam membuat perencanaan,organisasi yang bisa berkembang sesuai dengan tujuan dan visi misi yang sudah menjadi kesepakatan.

Dewasa ini banyak sekali organisasi-organisasi yang tumbuh berkembang,namun jarang sekali diantara beberapa organisasi yang ada bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama,mungkin karena beberapa hal yang bisa mempengaruhi sebuah organisasi itu bisa putus di tengah jalan atau mecet ¨tidak bisa menyelesaikan program/tidak menuai hasil (gagal)¨,ataukah karena perencanaan program itu dulunya tidak di pikirkan secara matang,atau bagaimana?,saya kurang begitu paham. Ataukah karena kurang kompak atau bagaimana ini?,bisa juga ini malah yang menjadi sebuah masalah yang harus di pecahkan.

Kerjasama yang baik bisa menjadi awal sebuah organisasi bisa berjalan dengan lancar dan baik,di samping itu juga perlu adanya komunikasi yang baik pula. Tanpa ada kerjasama dan komunikasi yang baik,sebuah organisasi tidak akan bisa bertahan lama,padahal suatu organisasi yang baik dilihat petama kali dari bisa bertahan lama ¨tidak cepat bubar¨ atau sebaliknya ¨konsisten¨. \

Perumusan masalah

a. Pengertian Organisasi

b. Pengertian Management

c. Bagaimana penerapan asas-asas management dalam organisasi

PEMBAHASAN

a. Pengertian organisasi

Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.

  • Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama
  • James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama
  • Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
  • Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran

Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

b.Pengertian Management

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.[ Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwa

A. Pengertian Manajemen

Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman.
Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah
manajemen mengandung tiga pengertian yaitu:

Manajemen sebagai suatu proses,

1. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,

2. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)

Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang
diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian
yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.

Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan

mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.

Selanjutnya,Hilm an mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui

kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.

Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas
manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam
suatu badan tertentu disebut manajemen.

Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenai
inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen
adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya
kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.

Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan
atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud
yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu
pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan
yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan
pengetahuan manajemen.

Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan
melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer
mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja
yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

C. Bagaimana penerapan asas-asas management dalam organisasi


Asas-asas organisasi

1.Pembagian kerja (Division of work)

2.Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility)

3. Kesatuan pengarahan (Unity of direction)

4. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri (Subordination of Individual Interest to Generale Interest )

5. Penggajian pegawai (Renumeration)

6. Ketertiban (Order)

7. Keadilan dan kejujuran

8. Stabilitas kondisi karyawan (Stability of Staff)

1.Pembagian kerja (Division of work)

Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike. Tujuan suatu organisasi adalah untuk mencapai tujuan di mana individu-individu tidak dapat mencapainya sendiri. Kelompok dua atau lebih orang yang bekerja bersama secara kooperatif dan dikoor­dinasikan dapat mencapai hasil lebih dari pada dilakukan perseorang­an. Konsep ini disebut synergy. Tiang dasar pengorganisasian adalah prinsip pembagian kerja (division of labor) yang memungkinkan sy­nergy terjadi. Sebagai contoh, pembagian kerja dalam team sepak bola : di mana ada manajer tim, kepala pelatih, asisten pelatih, dokter tim, penjaga gawang, dan pemain lainnya. Pembagian kerja ini efektif karena bila hanya komponen kecil dari pekerjaan yang dilaksanakan, kualifikasi personalia yang rendah digunakan, dan latihan jabatan le­bih mudah. Gerakan-gerakan dan perpindahan yang percuma dari komponen pekerjaan yang besar diminimumkan. Lebih dari itu, pem­bagian kerja mengarahkan penanaman pada peralatan dan mesin-me­sin yang efisien untuk meningkatkan produktivitas.

Namun demikian, beberapa penulis telah menunjukkan adanya konsekuensi-konsekuensi pada perilaku karyawan sehubungan de­ngan pembagian kerja, bila hal itu dilaksanakan secara ekstrim. Lni dapat menimbulkan kebosanan, keletihan, monoton dan kehilangan motivasi yang dapat menghasilkan ketidak efisienan dan bukan efisiensi.

Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. Kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya


2.Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility)


Authority (wewenang) adalah hak untuk memberi instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan. Authority bersumber dari intelegensia, pengalaman, nilai moral, kesanggupan memimpin, dan pelayanan masa lalu. Sedangkan responsibility (tanggung jawab) tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang, dan agar dapat dilaksanakan responsibility harus diberikan.
Wewenang yang tidak disertai dengna tanggung jawab adalah buta, dan tanggung jawab yang tidak dilengkapi wewenang adalah celaka. Antara wewenang dan tanggung jawab harus seimbang, makin besar wewenang , makin besar tanggung jawabnya.
Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak. Oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.
Keahlian dan kepemimpinan merupakan dasar dari pada wewenang dan tanggung jawab. Oleh karena itu, seorang manajer yang mempunyai keahlian dan kepemimipinan akan mampu memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan wewenang yang ada padanya.

Hakikat tanggung jawab dalam rangka pengembangan epistemologi

Tanggung jawab menurut van melsen berhubungan dengan penyebab (kasualitas) “bertanggung jawab atas”, memiliki sifat terbatas.
Subyek tidak saja dapat menjawab tetapi juga harus menjawab
ilmu pengetahuan memiliki domino efect yaitu bertanggung jawab terhadap perubahan sosial dan bertanggung jawab terhadap yang terjadi selanjutnya.

Sikap tanpa pamrih sebagai bagian dalam tanggung jawab profesional keilmuan

Sikap tanpa pamrih adalah kritik, membenahi dan menahan diri sebagai konsekuensi selalu terdapat kepentingan menyangkut hati nurani manusia.

Tanggung jawab sosial dalam rangka pengembangan epistemologi

Yang dimaksud dengan memiliki tanggung jawab sosial adalah konsisten dengan proses telaah epistemologis terhadap hakikat pengetahuan, ini merupakan akibat dari fungsi tertentu yang dimilki ilmuwan dalam masyarakat (jujun suriasumantri)

Pentingnya kesadaran etis dalam pengembangan epistemologi

Kesadaran etis adalah aspek dasar tanggung jawab kultural. Kesadaran ini beorientasi pada sikap moral, yaitu norma-norma sebagai standar yang bersifat wajib, dan sikap etis yaitu sikap yang diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dan keputusan kritis dan bertanggung jawab

Sikap keilmuan terhadap adanya tuntutan moral terbadi menjadi dua golongan, golongan pertama epistemologi harus bersifat netral terhadap nilai-nilai, baik secara ontologis maupun aksiologis. Ini didasarkan pada tradisi kenetralan epistemologis secara total dimana tugas ilmuwan hanya menemukan pengetahuan saja. Golongan kedua yang menganggap netralitas epistemologi terhadap nilai hanya terbatas pada aspek metafisik keilmuan, sedangkan penggunaan dan penerapannya harus berlandaskan asas-asas moral

Profesionalisme dan integritas kepribadian

Profesionalisme adalah sikap seorang profesional atau profi (terampil), citra diri. Sikap profesional antara lain percaya diri (self confident), obyektif, hasil kerjaya bersifat universal, pragmatis – tidak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan sempit,berkompeten dan efisien, bekerja keras sekaligus menikmatinya

Integrity / integer adalah sifat dasar seseorang yang memperlihatkan kepribadiannya secara utuh atau tidak terkotak-kotak. Sedangkan yang dimaksud dengan integritas intelektual adalah sikap dasar profesional dalam mengembangkan tanggung jawab kulturalnya melalui keterlibatan yang mendalam pada kebenaran, perwujudan perasaan jijik terhadap ketidakjujuran intelektual dan merupakan hakikat sikap profesional yang sebenar-benarnya.

Orang yang memiliki integritas intelektual memiliki ciri:
• tidak cepat berpuas diri
• selalu mencari dalil-dalil pertama
• tidak sekedar memiliki kesan dan perasaan pada kebenaran yang setengah-setengah

Setiap karyawan dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban. Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang. Setiap pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.

3.Kesatuan pengarahan (Unity of direction)

Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang berati dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu, dan stabilitas mengalami cobaan. Seseorang tidak mungkin melaksanaa instruksi yang sifatnya dualistis.
Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesui dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja
kesatuan arah dapat menjamin tertibnya lalu lintas wewenangdan tanggung jawab dalam pelaksanaan kerja, se3hin gga kegiatan kerja terarah pada sasarannya dan menjamin tercapai tujuan usaha. Tidak mungkin terdapat hak untuk memerintah orang lain mengerjakan sesuatu tanpa adanya wewenang.
Oleh karena itu, kesatuan perinta merupakan landasan untuk meminta pertanggungjawaban bawahan sesuai dengan wewenang yang ada padanya. Dengan kata lain unity of comand merupakan pelaksanaan untuk terjaminnya authority dan responsibility.

Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, karyawan perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan pengarahan bertalian erat dengan pembagian kerja. Kesatuan pengarahan tergantung pula terhadap kesatuan perintah. Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari mana karyawan mendapat wewenang untuk pmelaksanakan pekerjaan dan kepada siapa ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi kesalahan. Pelaksanaan kesatuan pengarahan (unity of directiion) tidak dapat terlepas dari pembaguan kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, serta kesatuan perintah.

4.Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri (Subordination of Individual Interest to Generale Interest)

Dalam sebuah organisasi kepentingan pribadi tidak boleh diatas kepentingan organisasi. Hal ini merupakan syarat yang sangat penting agar setiap usaha berjalan dengan lancar sehingga dapat tercapai tujuannya. Berhasilnya suatu usaha akan menyangkut kepentingan-kepentingan seluruh anggota khususnya, dan kepentingan masyarakat pada umumnya.
Setiap
anggota dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap anggota merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.

Setiap karyawan harus mengabdikan kepentingan sendiri kepada kepentingan organisasi. Hal semacam itu merupakan suatu syarat yang sangat penting agar setiap kegiatan berjalan dengan lancar sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik.

Setiap karyawan dapat mengabdikan kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi apabila memiliki kesadaran bahwa kepentingan pribadi sebenarnya tergantung kepada berhasil-tidaknya kepentingan organisasi. Prinsip pengabdian kepentingan pribadi kepada kepentingan organisasi dapat terwujud, apabila setiap karyawan merasa senang dalam bekerja sehingga memiliki disiplin yang tinggi.

5. Penggajian pegawai (Renumeration)

Gaji pegawai adalah harga dari layanan yang diberikannya. Harus adil, sejauh mungkin memberi kepuasan baik pada pegawai maupun perusahaan. Manusia memiliki kebutuhan spiritual dan material yang harus dipenuhi. Tingkat gaji dipengaruhi oleh biaya hidup, permintaan dan penawaran tenaga kerja, keadaan umum perusahaan, posisi ekonomi perusahaan, dan tergantung pula dari pendidikan dan pengalaman pegawai.
Upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Penggajian yang tidak cukup akan menimbulkan indisipliner para pegawai, sehingga sulit diarahkan pada tujuan yang hendak dicapai.
Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian haris dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus diperhitungkan agar menimbuulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more pay for more prestige (upaya lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak disiplin

gaji atau upah bagi karyawan merupakan kompensasi yang menentukan terwujudnya kelancaran dalam bekerja. Karyawan yang diliputi perasaan cemas dan kekurangan akan sulit berkonsentrasi terhadap tugas dan kewajibannya sehingga dapat mengakibatkan ketidaksempurnaan dalam bekerja. Oleh karena itu, dalam prinsip penggajian harus dipikirkan bagaimana agar karyawan dapat bekerja dengan tenang. Sistem penggajian harus diperhitungkan agar menimbulkan kedisiplinan dan kegairahan kerja sehingga karyawan berkompetisi untuk membuat prestasi yang lebih besar. Prinsip more pay for more prestige (upah lebih untuk prestasi lebih), dan prinsip upah sama untuk prestasi yang sama perlu diterapkan sebab apabila ada perbedaan akan menimbulkan kelesuan dalam bekerja dan mungkin akan menimbulkan tindakan tidak disiplin.

6.Ketertiban (Order)

Adanya ketertiban dalam sebuah perusahaan harus ditempatkan dengan tegas untuk setiap pegawai. Setiap pegawai akan disiplin apabila sadar sepenuhnya akan tugas dan tanggung jawabnya. Kesadaran bertanggung jawab dipengaruhi oleh kebutuhab hidup. Apabila kebutuhan tersebut telah terpenuhi, maka akan ada pengusahaan disiplin terhadap dirinya. Tapi dalam kenyataan perlu ditertibkan dahulu baru ada kedisiplinan, walaupun itu didorong oleh rasa takut.


ketertiban ini menurut segala bidang, yaitu adanya keterlibatan dalam penggunaan wewenang dan pemberian tanggung jawab.


ketertiban dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan

Ketertiban dalam melaksanakan pekerjaan merupakan syarat utama karena pada dasarnya tidak ada orang yang bisa bekerja dalam keadaan kacau atau tegang. Ketertiban dalam suatu pekerjaan dapat terwujud apabila seluruh karyawan, baik atasan maupun bawahan mempunyai disiplin yang tinggi. Oleh karena itu, ketertiban dan disiplin sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan. Ketertiban dapat di peroleh dengan konisten pada pendirian. Tidak mencampur adukan urusan pribadi dengan kepentingan organisasi.

7.Keadilan dan kejujuran

Untuk merangsang pegawai melaksanakan tugasnya, mereka harus diperlakukan dengan ramah dan adil. Kombinasi keramahtamahan dan keadilan akan menghasilkan equity. Semua karyawan harus dianggap sama pentingnya dan sama baiknya. Apbila terjadi perselisaihan, tidak boleh memihak, melainkan harus diselesaikan dengan musyawarah dengan asas kekeluargaan.
Keadilan dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.
Apabila dalam suatu usaha tidak ada keadilan, maka usaha itu akan mengalami kemacetan, bahkan kegagalan. Penggunaan nya pun harus untu kepentingan bersama. Apabila digunakan untuk kepentingan pribadi, maka ini merupakan titik tolak mrnuju kehancuran.

keadilan dan kejujuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keadilan dan kejujuran terkait dengan moral karyawan dan tidak dapat dipisahkan. Keadilan dan kejujuran harus ditegakkan mulai dari atasan karena atasan memiliki wewenang yang paling besar. Manajer yang adil dan jujur akan menggunakan wewenangnya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan keadilan dan kejujuran pada bawahannya.

8.Stabilitas kondisi karyawan (Stability of Staff)

Dalam setiap kegiatan kestabilan karyawan harus dijaga sebaik-baiknya agar segala pekerjaan berjalan dengan lancar. Kestabilan karyawan terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam kegiatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya memiliki keinginan, perasaan dan pikiran. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, perasaan tertekan dan pikiran yang kacau akan menimbulkan goncangan dalam bekerja.


kestabilan karyawan tidak dapat dipaksakan dengan kekuasaan dan ketakutan. Kalaupun berhasil, hanyalah bersifat sementara. Kestabilan hanya dapat terwujud karena adanya disiplin kerja yang baik dan adanya ketertiban dalam usaha itu.


oleh karena itu, apabila kehendak tidak terpenuhi, perasaan tertekan, dan pikiran yang tidak ada penyaluran, maka akan menimbulkan frustasi yang sewaktu-waktu bisa meledak sehingga menggangu kelancaran usaha. Untuk itu diperlukan keadilan dan kejujuran untuk mendapatkan kestabilan karyawan.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap komitmen organisasi diantaranya adalah penerapan prinsip prinsip managemen dalam organisasi. Seorang manager hrus mampu memimpin bawahan berdasarkan atas dasar asas asas management. Pengalaman dalam kerja, kepercayaan dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai dan tujuan organisasi, keinginan bekerja keras demi kepentingan organisasi, dan keinginan untukmempertahankan diri agar tetap menjadi anggota organisasi.berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek komitmen organisasi meliputi kemauanyang kuat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi yang ditandai dengan kesetiaanpada organisasi atau perusahaan, kemampuan yang kuat berusaha semaksimal mungkin demi kemajuan dengan ikut mendukung kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan sasaran organisasi serta adanya penerimaan nilai, tujuan dan sasaran organisasi. Aspek-aspek yang akan dijadikan alat ukur adalahperasaan manunggal dengan organisasi, perasaan terlibat pada organisasi, dan perasaan setia dan loyal pada perusahaan.

SARAN

Seorang Pemimpin Harus Mengetahui Semua Hal Yang Menyangkut Tentang Organisasi Baik Secara Eksternal Maupun Internal